hi…
aku sangat menyukai hidupku yang penuh aneka warna. ada sedih, ada gembira, ada suka, ada duka. aku menjalaninya dengan penuh penghayatan, penuh pengalaman, penuh pelajaran. aku senang sekali mengeluh pada Tuhanku di setiap jengkal aku bernafas, tak henti-hentinya berdoa dan meminta sambil sesekali mengucap syukur. yap, aku nggak akan munafik, yang selalu bersyukur setelah Alloh memberikan aku sesuatu yang sangat aku idamkan. aku manusia biasa, penuh dosa dan cela, nggak malu jika aku mengaku, bahwa kadang aku pun lupa bersyukur (semoga Alloh memberiku pemahaman kenapa aku seperti ini)
aku sangat mencintai orang-orang yang banyak memberiku arti. orang-orang yang senantiasa menyayangiku, menjagaku, mengasihiku, dan juga memusuhiku. aku selalu berpikir, aku nggak boleh memusuhi orang yang telah memusuhiku. aku justru menempatkan mereka di level kedua setelah orang-orang yang begitu sayang padaku.
terlalu banyak teman dan sahabat aku punya. tak terhitung. sampai phonebook di 2 handphoneku saja overload. belum yang di agenda, buku alamat, dll. semua teman-temanku (karena aku nggak akan pernah memasukkan nama ke dalam tempat penyimpanan alamat jika aku nggak merefer mereka sebagai temanku). ada teman yang baik, ada teman yang jahat, ada teman yang religius, ada yang suka ninggalin sholat walo mereka ngaku Islam (atau nggak pernah ke gereja walo mengaku Nasrani, dll). aku nggak pernah membeda-bedakan meraka. toh, aku sendiri bukan orang yang sempurna.
aku pernah beberapa kali menjalin persahabatan yang erat dengan beberapa orang. mostly gals. dan baru beberapa kali dengan cowo. entah kenapa, persahabatanku selalu kandas di tepi jalan. dan rata-rata bertipe kegagalan yang sama. kalo dg gals, biasanya kalo udah pada mikir ‘masa depan’ alias, salah satu punya cowo/suami, yang satu merasa ditinggalkan. kalo dg cowo, biasanya yaaa…alasan yg sama. aku punya cowo ato mereka punya cewe. gak mau dibilang selingkuh lah, gak mau dimarahin pasangannya lah..
so many reasons built for. jujur. aku seringkali ketakutan. saat satu per satu teman baikku pergi, meninggalkan alasan yang gak masuk akal, dan akhirnya aku hanya bisa percaya ama diriku sendiri.
di meja kantorku sekarang, aku pasang fotoku dan sahabat dekatku pertama, seorang teman satu kelas di Elem. School. cukup dekat sampe kami masing-masing memutuskan bersekolah di SMP, SMA dan College yang berbeda. She’s Christian. Tapi gak pernah jadi masalah bagiku, karena dia sangat menghargai kemuslimanku, dan begitu pula aku. Putusnya persahabatan kami bukan karena masalah religion, tapi cowo. Waktu itu, dia jeles melihatku pacaran, padahal aku sudah selalu memberinya waktu khusus diluar waktu pacaranku. aneh, bukan?
di pigura di rumahku, ada foto yang kupajang isinya aku dan sahabatku (cewe) ketika aku SMP. Alhamdulillah, kami belum putus persahabatan, hanya renggang saja, lantaran kesibukan kami sekarang. ada pula sahabatku SMA, lumayan dekat. dan akhirnya putus juga gara-gara cowo (aku pernah mengumpati cowo, apa sih istimewanya cowo, sampek sering banget mengganggu hubungan persahabatanku dengan sahabat-sahabatku?)
di pigura di kamar, ada fotoku dan 2 sahabatku (all are gals) waktu kuliah. satu jauh, satu masih dekat. sempat mo jauhan juga dan untuk alasan yang sama, COWO (what a h*** the boys are!). aku jadi berpikir kencang untuk kembali bersahabat dekat dengan cewe. apakah nantinya semua sahabat cewe ku pergi, cuma lantaran cowo? ugh…picik sekali. padahal bagiku, teman itu jauh lebih berharga dibanding cowo (karena aku cewe). urusan ama cowo mah gak jauh dari urusan nafsu duniawi. cuma pengen dicinta dan mencinta (dan embel-embel urusan lainna yang gak jauh-jauh amat).
saat aku memulai hidup baru yang bukan berurusan dengan dunia persekolahan lagi, aku kembali bertemu dan memutuskan berteman dekat dengan teman baru. kali ini a boy. mencoba menjajal sampe sejauh mana aku bisa bersahabat dengan cowo yang notabene persahabatan kami intensif. awalnya nice. banyak sekali support dan nasehat seringkali kami share. yaaaa…merasa jadi berarti berkat teman. singkat cerita, persahabatan itu sekarang berujung tanduk lagi. kritis. kali ini, (baru bisa menebak saja sih) lantaran cewe! (dan urusan basi seputar kerjaan gitu). oh mine…
berulang kali dia bilang "nggak masalah dg ceweku" ato "maaf ya aku gak kepikiran, aku sibuk, dll" apa lah bahasanya (intinya gitu). aku sih, gak masalah juga. toh, bagiku aku gak mau ganggu kesibukan dia ato ngresehin dia (wong aku bukan cewenya :D). cuma aku nggak tau..sejauh mana posisiku sekarang. dulu aku sangat tau, posisiku benar-benar jadi satu-satunya teman dekatnya (setidaknya itu yg kudengar dari dia). but now?
saat dia mulai melupakan aku (as his friend), gak sempat lagi mikir (pernah) punya temen dekat yang (pernah) sering dijadikan tempat berbagi, aku jadi berpikir (dan sekaligus ber-suudzon ria) kalo dia udah gak butuh aku lagi.
satu sisi, dia udah punya calon istri yang pasti level kedekatannya jauh dibanding aku (saatnya aku tersisih). sisi yang lain, dia udah bosen ama aku karena ternyata aku gak baik-baik amat.
sayang sungguh sayang. kebalikannya, aku masih memikirkannya sebagai sahabat yang paling berarti bagiku. selain orang terdekatku, posisi dia sebagai sahabat dekatku membuatku selalu berusaha mengabari dia ttg apapun yang terjadi padaku. tapi dia tidak. dia sudah melupakan aku. ughh … tragis amat! aku bukanlah teman yang penting lagi. dan itu sungguh menyakitkan.
hm..bertahun-tahun aku mencari makna sahabat sejati…tapi pupus juga…
once more, i loose my dude…
sad. rere. arleynova.